Tata Cara Bayar Utang Puasa Dengan Fidyah Yang Tepat dan Benar

  
Bayar Utang Puasa Dengan Fidyah

Ramadhan baru saja berlalu, yang ditandai dengan hari kemenangan Idul Fitri. Puasa Ramadhan yang menjadi bagian rukun Islam merupakan kewajiban untuk dijalankan. Tetapi tidak semuanya mampu berpuasa 1 bulan penuh, dengan berbagai kendala dan halangan masing-masing. Untuk itu diperlukan tata cara bayar utang puasa dengan fidyah yang tepat dan benar.

Seseorang yang wajib membayar fidyah haruslah memiliki kriteria tertentu, seperti; orang yang sedang sakit dengan kondisinya yang tidak memungkinkan lagi untuk mengqadhanya. Serta orang tua yang sudah renta serta pikun. Sementara untuk ibu yang sedang hamil atau menyusui, dapat mengqadha atau membayar fidyah. Sebelum bayar utang puasa dengan cara fidyah, sebaiknya memperhatikan beberapa hal sebagaimana berikut:

1. Besarnya Fidyah

Saat akan bayar utang puasa dengan fidyah sebaiknya memahami aturannya terlebih dahulu. Besarnya fidyah yang dibayarkan berupa bahan makanan pokok, seperti gandum atau beras, untuk per hari setiap orangnya. Jadi bukan 1 porsi makan untuk setiap fakir miskin. Namun ada juga yang mengijinkan membayar fidyah dengan uang yang sudah dikonversikan dengan bahan makanan pokok tersebut. Berikut beberapa pendapat yang berkaitan dengan besarnya fidyah, antara lain:

  • Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Daud; Rasulullah SAW memerintahkan seorang laki-laki yang berjimak di siang hari pada saat bulan Ramadhan, dengan memberikan kurma kepada 60 fakir miskin sebanyak 1 wasaq atau 60 sha. Sehingga setiap orangnya mendapatkan 1 sha. Yang apabila dihitung senilai dengan beras 2.8 kg.
  • Sebagian lainnya menyatakan pendapat; besarnya fidyah untuk membayar hutang puasa sama dengan orang yang sedang bercukur di saat ihram, yaitu sebesar 2 mud atau ½ sha, yang senilai dengan 1.5 kg bahan makanan pokok.

2. Cara Pembayarannya

Kebanyakan orang belum paham cara bayar utang puasa dengan fidyah yang sesungguhnya.  Pada intinya cara membayar fidyah adalah 1 hari puasa diganti dengan memberikan makanan 1 orang miskin sehari. Jadi jika 20 hari, maka fidyah yang dibayarkan sebanyak 20 orang miskin sehari, atau dapat juga dengan 1 orang miskin selama 20 hari.

3. Waktu Yang Tepat

Waktu yang tepat dan terbaik untuk membayar fidyah adalah pada hari itu juga, ketika seseorang tersebut tidak berpuasa. Pembayar fidyah hanya sah dilakukan ketika memasuki bulan Ramadhan atau sesudahnya.  Maka tidak sah, apabila seseorang membayar fidyahnya sebelum memasuki bulan Ramadhan.

4. Uang Atau Beras

Hingga saat ini masih terjadi perdebatan berkaitan dengan tata cara pembayaran fidyah. Sebagian mengijinkan membayar fidyahnya dengan uang yang sudah dikonversikan senilai 1.5 kg makanan pokok.  Sebagiannya lainnya tetap kukuh harus dengan bahan makanan pokok.

Maka, jika memang fidyah dalam bentuk uang tersebut lebih bermanfaat bagi si fakir miskin tersebut, tentunya dapat dilaksanakan. Seperti; untuk membeli obat atau susu untuk kesehatannya. Tetapi jika pemberian uang tersebut menyebabkan si fulan atau fulanah berfoya-foya, maka bahan makanan pokok menjadi lebih baik.

5. Untuk Yang Meninggal

Apabila seseorang sakit dan kemudian meninggal tanpa sempat mengqadha puasanya ataupun membayar fidyah maka ada alternatif lain. Yakni, menjadi kewajiban bagi ahli waris untuk menggantikannya membayar hutang puasa tersebut. Sehingga salah seorang ahli waris maupun kerabat dekatnya dapat membayarkan hutang tersebut dengan berpuasa. Atau melakukan fidyah dengan berbagi makanan kepada seseorang atau sekelompok orang miskin.

Nah,  demikian tata cara bayar utang puasa dengan fidyah yang tepat dan benar. Mulai dari besarnya fidyah yang dibayarkan hingga siapa saja yang wajib membayarnya. Sehingga  tidak semua orang dapat dengan mudah membayar hutang dengan fidyah. Semoga bermanfaat  dan selamat beribadah.